KAULINAN BARUDAK SABILULUNGAN TINGKAT SD SE-KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2016






A.    KONSEP PEMENTASAN
Pada konsep pementasan kaulinan barudak sabilulungan ini, Kecamatan Cikancung mengusung tema  “UCING SUMPUT DINA SARUNG”. Dimana dalam pementasaannya peserta didik melakukan “kaulinan anu dipikaresep”, sambil melantunkan kakawihan dengan rasa “gumbira”. Biasanya permainan ini dapat dilakukan di “buruan”’ rumah lapangan terbuka. Misalnya saat bulan purnama tiba. Jika anak melakukannya akan merasakan suasana “ulin” di malam hari diterangi bulan purnama. Bahkan permainan ini bisa dilakukan dalam ruangan. Pada kegiatan “kaulinan” tersebut,  peserta didik melakukan “lulumpatan” dengan teman-temanya, “ucing-ucingan” sambil kejar-kejaran. “silih sumputan” dan “pabedol-bedol”. Pada kegiatan “silih sumputan” dan “pabedol-bedol”, peserta didik  dapat menggunakan properti/media sarung yang mereka kenakan. Pada kegiatan  “silih sumputan” peserta didik bersembunyi di dalam sarung, sedangkan “pabedol-bedol” sarung digunakan sebagai tambangnya.
Adapun kakawihan yang akan dilantunkan oleh peserta didik diantaranya : “ucing-ucingan” dan “cingciripit” dilakukan pada permainan ke-1, “Tokecang” pada permainan ke-2. “Kelenang-keleneng” pada permainan ke-3, sedangkan “sur-ser”, “Sepdur” dan “Ambil-ambilan” pada permainan ke-4.
Sedangkan alat permainan tradisional yang digunakan adalah : celempung renteng, calung renteng,  saron, celempung mini dan kecrek.

B.     SINOPSIS DAN TAHAPAN PEMENTASAN
1.      Bubuka
Diwakili 1 orang, peserta didik memperkenalkan diri ( nama, kelas, sekolah, dan asal kecamatan ).

2.      Permainan Ke-1        “Ucing-ucingan”
a.       Diwakili 1 orang peserta didik memanggil teman-temannya untuk berkumpul dengan melantunkan kakawihan  “Ucing-ucingan”
Karumpul babaturan
Arulin di buruan
Ulin ucing-ucingan
 Lumpat udag-udagan
Cing-cangkeling
Manuk cingkleung cindeten
Plos ka kolong
Bapa Satar buleneng
Sieun diudag ucing
Kabeh pada caringcing
Lumpat udag-udagan
Tarik apeng-apengan
Kembali ke………Cing-cangkeling. [1]
b.      Selanjutnya peserta didik melakukan  “suten” untyk menentukan siapa yang menjadi “ucing” (yang menjadi “ucing” mengejar temannya sampai terkejar / tertangkap semuannya).
Kawih yang akan dilantunkan adalah “Cingciripit”.
Cing ciripit
Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu pare
Bulu pare seuseukeutna
Jol pa dalang mawa wayang
Jrek-jrek nong, jrek-jrek nong. [2]
3.      Permainan Ke-2,       “Ucing Sumput”
Peserta didik melakukan permainan  “Ucing sumput dina sarung”, adapun tahapannya adalah sebagai berikut :
a.       Peserta didik bersama-sama menyanyikan kawih “Tokecang” dengan formasi lingkaran. Dalam lingkaran sudah ada sarung sebagai media sembunyi. Kawihnya sebagai berikut :
Tokecang tokecang
Bala gendir tosblong
Angeun kacang angeun kacang
Sapariuk kosong. [3]
b.      Pada saat kakawihan tersebut selesai dinyanyikan, peserta didik segera “paheula-heula” mengambil sarung untuk dijadikan area / tempat persembunyiannya. Peserta didik yang tidak kebagian sarung mendapat hukuman yaitu harus menebak siapa saja temannya yang bersembunyi dalam sarung tersebut, sampai semua teman yang bersembunyi di dalam sarung diketahuinya.

4.      Permainan Ke-3        “Kelenang-Keleneng”
Peserta didik melakukan permainan “Kelenang-Keleneng”, adapun kegiatannya adalah sebagai berikut :
a.       Peserta didik duduk bersila berjajar ke belakang. Satu orang peserta didik menjadi “aki-nini” penjaga kebun.
Kegiatannya diawali dengan melantunkan kakawihan sebagai berikut :
                  Kelenang-keleneng
                  Samping koneng
                  Keledat keledut
                  Samping kadut.[4]
b.      Selama ngawih, peserta didik menjadi  “aki-nini”,  menepuk-nepuk kepala anak yg duduk sila berjaajar tadi, melakukan dialog sebagai berikut :
Anak                :  “Tok.. tok.. tok..”
  “Aya saha di kebon?”
Aki Nini           : “Aya nini jeung Aki”
                                      “Rek ngala naon?”
Anak                : “Rek ngala hui jeung sampeu”
Aki Nini           : “Bisa teu ngarabutna?”
Anak                : “Bisa”
Aki Nini           : “Ku naon ngarabutna?”
Anak                : “Ku pacul”[5]

c.       Peserta didik yang duduk sila berjajar, kemudian “dirabut” oleh satu orang anak mulai dari ujung sampai semua tercabut.
d.      Peserta didik beristirahat sambil melantunkan kawih “Sur-Ser” dengan formasi duduk melingkar peserta didik menjulurkan kedua kakinya sampai pangkal paha. Adapun kawihnya sebagai berikut :
                                 Sur-ser sur-ser
                                 Kulub hui kulub sampeu
                                 Di suluhan ku baketes
                                 Baketes meunang meulahan
                                 Dug dug bro 2 x
                                 Kumaha, kumaha….?
( Salah satu peserta didik berdiri menanyakan  “kulubna”, geus asak atawa acan ? “).[6]


5.      Permainan ke-4         “Sep Dur”
Peserta didik melakukan permainan “Sep Dur’, adapun kegiatannya sebagai berikut :
a.       2 orang peserta didik menjadi terowongan (Keduanya sudah mempunyai kata “Sandi rahasia” yang akan dipilih oleh peserta didik yang ditangkap ), posisi tangan berpegangan menyerupai terowongan.
b.      Peserta yang lain berdiri berbaris ke belakang, sambil kedua tangan mereka berpegangan pada pinggang temannya yang didepan, lalu maju memasuki terowongan sambil melantunkan kawih “Sep dur”
                                 Sep dur sep dur
                                 Mantri mantra mandalebur
                                 Delas depan dipandeuri
                                 Kahijina, kaduana
                                 Katiluna… (Tergantung jumlah anak yg berbaris)
                                 (Anak yg paling ujung ditangkap)
                                 Hep.. ditangkap. [7]
c.       Peserta didik yang tertangkap disuruh memilih “Sandi rahasia” yang mereka inginkan. Setelah menentukan pilihannya anak tersebut bergabung berdiri dibelakang salah satu temannya yang menjadi terowongan tadi.
d.      Setelah semua anak tertangkap dan menentukan pilihannya lalu melakukan permainan  “pabedol-bedol”. Kegiatan “pabedol bedol” ini mula mula dilakukan dengan tangan mereka direntangkan  berpegangan lalu saling tarik menarik, yang tertarik berarti menjadi pemenang, atau “pabedol bedol” juga bisa menggunakan sarung yangg mereka gunakan sebagai tambangnya yang sebelumnya semua peserta didik melantunkan kakawihan “Ambil-ambilan”. Adapun kawihnya sebagai berikut:
                                 Ambil ambilan
                                 Turugtug hayam samantu
                                 Saha nu di ambil
                                 Kami mah teu boga incu
                                 Boga ge anak minantu
                                 Minantu bae purah nutu purah ngejo
                                 Purah ngasakan baligo
                                 Nyeurieun sukuna
                                 Kacugak kukaliage
                                 Aya ubarna kulit munding campur dage
                                 Tigubrak kana papangge
                                 Balik balik nyocodan dage.[8]

6.      Panutup
Semua peserta didik “amitan” dan meninggalkan area pementasan.
                                
C.    SUMBER REFERENSI

Ade Wikaya, Panungtun Basa Sunda Pikeun Murid SD Kelas 1, (Bandung: Acarya Media Utama).
Eri Djuariyah,S.Pd. (spk), Buku Paket ”Pangajaran Basa Sunda Pikeun SD/MI Kelas 1 Parigel Make Basa Sunda”. (CV. Prisma Esta Utama. Bogor. 2006).
Kreasi Guru UPTD TK/SD Kecamatan Cikancung, 2016.
Taufik Faturrohman, Piwulang Basa Keur Kelas 1, (Bandung: Geger Sunten).


[1] Eri Djuariyah,S.pd. (spk), Buku Paket ”Pangajaran Basa Sunda Pikeun SD/MI Kelas 1 Parigel Make Basa Sunda”. (CV. Prisma Esta Utama. Bogor. 2006); hal.78.
[2] Taufik Faturrohman, Piwulang Basa Keur Kelas 1, (Bandung: Geger Sunten); hal.108.
[3] Taufik Faturrohman, Piwulang Basa Keur Kelas 1, (Bandung: Geger Sunten); hal. 109.
[4] Kreasi Guru UPTD TK/SD Kecamatan Cikancung, 2016.
[5] Kreasi Guru UPTD TK/SD Kecamatan Cikancung, 2016.
[6] Ibid.
[7] Kreasi Guru UPTD TK/SD Kecamatan Cikancung, 2016.
[8] Ade Wikaya, Panungtun Basa Sunda Pikeun Murid SD Kelas 1, (Bandung: Acarya Media Utama); hal. 85.

Posting Komentar

0 Komentar